Last Thursday, Aminah Assilmi passed away due to a car accident in Tennese.

Let us make recite Al-Fatihah & make du’a for her. Surely we can learn many things from this great person, and above all, she taught us love to Allah will surely makes you stronger.

To all, do read her story, you’ll learn a lot insyaAllah. May Allah bless her soul & gives her paradise. Amin, Ya Robill alamin.

@

Khamis lalu, Aminah Assilmi meninggal dunia dalam satu kemalangan kereta di Tennesse.

Marilah kita membacakan  Al-Fatihah & mendoakan beliau. Yang nyata, terlalu banyak perkara yang boleh dipelajari daripada insan yang hebat ini , & lebih daripada itu, dia mengajar kita bahawa cinta kepada Allah pastinya akan menjadikan dirimu menjadi lebih kuat.

Untuk semua, bacalah kisahnya, anda akan mempelajari banyak perkara insyaAllah. Moga Allah merahmati rohnya & memberikannya syurga. Amin Ya Robbil alamin.

Dipetik dari http://atriza.blogspot.com/

Aminah Assilmi tika menjadi pembaptis dari Oklahoma wanita ini mempelajari Islam untuk mengajak teman sekampusnya memeluk Kristian. Tetapi yang terjadi kemudian sungguh jauh dari dugaan.

Namanya Aminah Assilmi. Saat kuliah dia mengambil program studi pariwisata di sebuah perguruan tinggi di Amerika. Pertama kali dia bertemu orang Islam ketika kuliah, tepatnya pada tahun pertama memasuki dunia akademik perkuliahan.

Saat perkuliahan berlangsung, Aminah biasanya duduk di barisan terdepan. Dia selalu mencatat dan mengingat penjelasan para dosen. Dia pernah menyandang beberapa penghargaan di kampusnya, sebuah prestasi yang membuatkan namanya mudah diingat orang.

Aminah bukan orang yang mudah bergaul. Agak sukar baginya untuk memulai pembicaraan apalagi menjadi pemecah keheningan. Aminah akan berbicara jika terpaksa. Hanya kepada satu golongan sahaja dia sungguh merasa senang dan selesa serta mudah berinteraksi. “Anak-anak adalah sekumpulan orang yang membuat saya senang dan selesa,” terangnya.

Ketika bersama mereka, senyuman perempuan ini terlihat bagai bunga merekah di musim semi. Senyuman itu muncul bukan kerana kesenangan material, tetapi kerana sebuah kebahagiaan bercengkerama sekaligus mendidik makhluk Tuhan yang masih suci dari dosa.
Mungkin menjadi beban fikirannya juga jika selama ini dia sukar bergaul dengan teman-temannya. Entah dia merencanakan untuk menghilangkan kelemahannya itu atau tidak, yang jelas dia terpilih mengikuti drama teater.

Tidak sanggup rasanya meneruskan kegiatan ini. Bayangkan, berhadapan dengan sedikit orang saja Aminah sukar memulakan pembicaraan, apalagi ketika berhadapan dengan ratusan atau ribuan orang yang menonton pentasnya.

“Sangat mengerikan,” kesannya, “di hadapan kelas sahaja saya tidak berani bertanya bagaimana caranya pergi ke panggung apalagi berhadapan dengan orang banyak?”

Sesampainya di rumah, dia keluhkan masalah itu kepada suaminya. Berdasarkan saran suaminya, Aminah perlu menjelaskan kepada gurunya tentang kekurangannya itu, dan mengganti kegiatan drama teater dengan seni lukis.

Kali ini Aminah berani berhadapan dengan gurunya. Dan berhasil. Permintaan Aminah diterima. Hari berikutnya dia masuk kelas seni lukis dengan penuh bahagia. Tidak ada lagi yang menonton, yang melihat wajah Aminah hanya peralatan lukisan perti kertas, atau pun kain kanvas untuk melukis.

Ketika membuka pintu kelas perasaan risau mulai menghantui fikirannya. Pada mulanya dia mengira pengikut kelas seni lukis adalah orang-orang sebangsanya, orang Amerika atau kulit putih pada umumnya. Realitinya bukan. Kelas itu penuh dengan orang Arab Muslim. Aminah menganggap mereka ‘penunggang unta’.

Dalam fikiran Aminah, orang-orang Muslim tidak boleh dipercayai. Mereka dianggap penipu dan selalu dibenci. Keinginan untuk melangkah masuk ke kelas itu, dia tahan. Pintu kelas ditutupnya dan kembali pulang. “Bagaimana boleh saya berkumpul dengan penyakit membahayakan, akan menular juga di kemudian hari,” ungkapnya mengenang isi hatinya saat itu.

Kembali dia berkongsi tentang kejadian itu kepada suaminya. Aminah boleh sahaja memutuskan terus apa yang hendak dia perbuat kemudian, tetapi harus difikirkan dulu, barangkali Tuhan punya maksud tertentu, begitu suaminya memberi saran.

Di samping itu, dia juga tidak mau menyia-nyiakan biasiswanya. Kalau disia-siakan, huruf F, abjad yang menggambarkan nilai terendah mahasiswa, akan merenggut biasiswanya.

Suatu ketika dia paksa dirinya masuk kelas. Dia masuk dan mengikuti kegiatan kelas. Di saat pengajar tidak ada dia berdiri di depan kelas, menjelaskan betapa cintanya Yesus kepada semua manusia. “Terlalu besar cintanya, dia korbankan dirinya untuk menebus dosa-dosa kalian semua,” ungkapnya. Yang harus dilakukan manusia kini hanyalah mengakui keyakinan itu di dalam lubuk hatinya.

Para pelajar Islam itu diam saja. Dengan penuh sopan – tanpa tindakan balas sedikit pun – mereka menolak ajakan Aminah.

Tidak putus asa, kali lain Aminah mencuba membenarkan ajaran Yesus dengan meminjam hujjah-hujjah Islam. Dia pelajari al-Quran. Dia baca 15 buku Islam, salah satunya sahih Bukhari. Tanpa dia sedari, mempelajari ajaran Islam mengubah shariannya. Biasanya setiap Jumaat dan Sabtu dia mengisi waktu pergi ke bar, atau ke pesta, bersama suami. Setelah mempelajari Islam tidak lagi. ‘Sedikit berubah memang, tapi cukup mengganggu suami saya,’ ungkapnya.

Keperibadiannya ikut berubah. Aminah terlihat lebih sering tutup mulut dan menjaga jarak, tidak seperti biasanya. Kerana merasa terganggu, suami meninggalkannya. Aminah pindah ke sebuah apartemen bersama anak-anaknya.

Di apartmen baru itu (suatu ketika) seseorang mengetuk pintu. Apartmen Aminah kedatangan seorang Muslim. Tamu itu bernama Abdul Aziz al-Syeikh. Sabar orangnya. Dalam berdiskusi tidak pernah menjatuhkan lawan bicara. Tetamu itu bertanya apakah Aminah mempercayai keEsaan Tuhan? dan mengakui kenabian Muhammad. Kedua-dua jawabannya adalah ya.

“Selamat, anda sudah menjadi seorang Muslim,” ungkap tamu itu. Aminah membantah. “Saya tidak ingin menjadi seorang Muslim. Saya ini orang Kristian,” ungkapnya.

Terdetak di hatinya, dirinya tidak akan menjadi Muslim. “Apa kata suamiku nanti jika aku Muslim. Akan cerai nanti, dan keluargaku akan memarahiku” keluhnya jika benar dia sudah menjadi Muslim.

Atas keraguan itu, Aminah Abdul Aziz menjelaskan, untuk memahami pengetahuan, dan menggapai hireraki spiritual, seseorang itu ibarat menaiki tangga. Satu per satu anak tangga dipijak. Jika satu anak tangga saja diabaikan, maka berpotensilah ia akan jatuh. Dan Syahadah adalah anak tangga pertama yang harus dipijak.

Pada bulan Mei 1977, Aminah mengucap Syahadah, memalingkan keyakinannya dari Kristian kepada Islam. Masih ada keraguan yang dia terima. Walaupun telah bersyahadah, dia tidak mahu mengenakan tudung kepala.

Memang benar, syahadah adalah taraf awal yang kuat bagi bangunan pengetahuan spiritual, menjadi pintu awal menuju redha Ilahi. Dan rasanya, semenjak mengucapkan syahadah, terbuka peluang Aminah menggapai keduanya.

Semenjak itu, Abdul Aziz sering datang ke rumahnya untuk berdialog. Kepada Aminah dia menjelaskan, “Bertanya adalah salah satu cara menggapai pengetahuan.”

Semakin sering dia mempelajari Islam semakin dalam ilmu yang didapat. Aminah memutuskan untuk mengenakan jilbab. “Sudah lupa saya bilakah kali pertamanya saya bertudung,” ungkapnya.

Setelah sekian lama mempelajari Islam dia terkesan, pada mulanya tidak bermaksud menemukan apapun yang dia inginkan untuk hidupnya yang sekarang ini. “Kini aku menyedari Islam mengubah kehidupanku dan tidak seorang pun dapat meyakinkanku mencapai kedamaian, cinta, dan kesenangan dengan Islam.

Berat terasa. Kehidupannya hanya sebatang kara, tinggal di lautan manusia tapi dianggap seperti bukan manusia. Aminah yang kini bertudung dipandang sebagai makhluk aneh di dunia. Dia bercerai dari suaminya. Anak-anaknya diasuh oleh suaminya, begitu pengadilan memutuskan, kerana agama Aminah dianggap ancaman bagi perkembangan psikologi anak.

Hati Aminah sangat terluka. Fikirannya terus merakam perpisahan dengan anak-anaknya, buah hati yang dia lahirkan dengan taruhan nyawa. Setelah buah hatinya pergi seluruh keluarganya ikut meninggalkan Aminah. Teman-temannya pun menghilang. Pekerjaan pun sirna.

Di tengah kesedihan itu, hanya seorang saja yang sudi menemaninya. Hanya neneknya saja yang sama menampung. Dan ikut menjadi Muslim. Sayang tidak lama kemudian dia meninggal.

Seharian Aminah adalah mempelajari Islam. Banyak perubahan terjadi di kemudian hari, dari yang alergi tampil di depan awam menjadi seorang ‘penyampai’, berceramah dari satu seminar ke seminar lainnya.

Beberapa tahun kemudian kesendiriannya mulai terubat. Ibu yang menolaknya kini memanggilnya kembali dan menyatakan ingin menjadi Muslim.

“Apa yang harus aku lakukan,” tanya seorang ibu. Aminah dengan rendah hati menjawab, hanya dengan mengakui keesaan Allah dan mengakui Muhammad sebagai Nabi serta pesuruhaNYA..

“Itu saja?” ungkap ibu terkesima, betapa mudahnya menjadi seorang Muslim.

“Semua orang pun telah mengetahui akan itu.” semenjak itu ibunya memeluk Islam.

“Tapi nak, jangan khabarkan kepada ayahmu dulu ya,” pesannya.

Tidak lama kemudian diketahui, ayahnya telah lebih dulu memeluk Islam. Saudaranya juga demikian. Suami yang dulu menceraikannya juga ikut menjadi Muslim.

Sebuah pertemuan dengan bekas suaminya terjadi. Di hadapan Aminah, seorang suami meminta maaf atas kesalahannya. “Aku sudah memaafkanmu sejak dulu,” ungkap Aminah.

Kini Aminah tidak lagi sebatang kara. Keluarganya kini kembali dengan utuh. Anak pertamanya, Whittney, menyusul menjadi Muslim.

Bertahun-tahun berdakwah tanpa putus asa. Bukan tanpa hasil, di dunia saja dia sudah merasakan, betapa bahagianya kembali berkumpul bersama keluarga. Begitulah Aminah berjuang. Tiada yang dia yakini kecuali Islam, agama yang baginya patut dibela, dan diperjuangkan.

Bagaimana pula kita??

Afala Ta`kilun…

To know more about Aminah Assilmi & her work, to donate & help, go to;

http://www.iumw.org/

& this is few words from my youtube friend; Daawah Addict;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s